“Yuwaswisu” Hoaks Setiap Hari

  • Whatsapp


Oleh : M. Zakiy Mubarok

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat, sejak Januari – Agustus 2020, terdapat 1.028 berita hoaks terkait COVID-19 di Indonesia. Dari angka tersebut, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo, Widodo Muktiyo, Selasa (12/8-2020) mengungkapkan, informasi hoaks terbanyak terjadi pada bulan Maret, yaitu 265 hoaks.

Jika berpegang pada data tersebut, boleh kita katakan, sepanjang Januari hingga Agustus, rata-rata dalam sehari kita disuguhi 4 – 5 berita hoaks terkait COVID-19. Untuk bulan Maret, intensitasnya lebih tinggi, yakni 8 – 9 berita hoaks terkait hal yang sama telah memapar kita dalam sehari.

Fenomena hoaks dibalik pandemi COVID-19 tidak hanya terjadi di Indonesia. Namun di seluruh dunia. Bahkan, tidak hanya hoaks, saat ini (di seluruh) dunia menghadapi apa yang disebut dengan infodemi mengenai COVID-19. Mengutip kompas.com (13/8-2020), infodemi diartikan sebagai kelebihan informasi yang di dalamnya tercampur hoaks dan teori konspirasi

Baca Juga

Tentang hoaks, dari beberapa sumber yang ada, seperti Wikipedia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maupun penjelasan teoritik Silverman (2015), terdapat garis lurus dalam memberikan arti kata hoaks, yakni berita bohong atau berita palsu atau informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya, yang sengaja disesatkan tetapi “dijual” sebagai kebenaran.

Kalau kita merujuk pada pengertian itu, maka hoaks sesungguhnya adalah sebuah produk olahan informasi yang dilakukan secara sadar oleh seseorang atau sekelompok orang dengan maksud untuk mengecoh orang atau sekelompok orang lainnya dengan berbahan dasar informasi yang sudah dan atau tidak ada kemudian disebarkan dengan cara mengurangi dan atau menambahkan, untuk maksud dan tujuan tertentu. Silverman menyatakan, hoaks lebih dari sekedar (informasi/berita) misleading (menyesatkan).

Dengan ditambahkan atau dikuranginya informasi yang ada (atau dibuat-buat, seolah-olah ada), sebagian (besar) masyarakat mempercayainya sebagai informasi yang benar. Segala sesuatu kalau “diwiridkan” secara terus menerus, maka lama-lama akan dipersepsikan sebagai sebuah kebenaran. Tidak tertutup kemungkinan berlaku hukum yang sama pada hoaks.

Hoaks kerap menimbulkan keresahan dalam kehidupan sosial. Bahkan, akibat hoaks pada tingkat tertentu bisa menyebabkan hilangnya nyawa manusia. Sebuah studi yang dipublikasikan oleh The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, mengungkap, terdapat sekitar 2.300 laporan hoaks dan teori konspirasi COVID-19 dalam 25 bahasa di 87 negara. Menurut studi ini, infodemi COVID-19 telah menyebabkan kematian setidaknya 800 korban jiwa di seluruh dunia. (Selengkapnya baca kompas.com 13 Agustus 2020)

Kalau kita kembali pada pengertian umum hoaks sebagaimana telah disebutkan diatas, maka hoaks sesungguhnya tidak hanya berpotensi memapar informasi tentang COVID-19. Tapi, hampir semua sisi kehidupan kita sangat rawan dan rentan terhadap “infodemi”. Seperti infodemi di bidang politik, sosial, ekonomi, sampai infodemi sejarah dan budaya manusia. Jika ini dibiarkan terus terjadi, maka bisa dipastikan dampaknya tidak hanya meresahkan, menyesatkan pikiran dan peradaban manusia, tapi yang paling puncak adalah bisa mengakibatkan korban jiwa dan nyawa, sebagaimana infodemi yang terjadi pada COVID-19.

Dengan makin berkembangnya media sosial saat ini, hoaks dapat hadir dimana saja dan kapan saja. Karena itu, sebagai objek hoaks, ada baiknya kita membekali diri dengan seperangkat ilmu dan pengetahuan, untuk terhindar dari jeratan yuwaswisu hoaks sudurinnas.

Dalam konteks itu, saya teringat keshahihan (kebenaran) sebuah hadist Rasulullah saw. antara lain bisa dipastikan melalui beberapa syarat. Sepertinya, semoga saya tidak berlebihan, jika unsur-unsur yang terdapat dalam syarat-syarat itu kita pinjam sebagai ilmu atau metode untuk memastikan apakah sebuah informasi bisa dan layak kita percaya atau tidak. Agar telinga dan dada (hathin atau hati) kita terhindar dari bisikan hoaks.

Kita ketahui bersama, sedikitnya ada lima syarat pokok bagi keshahihan sebuah hadist.

Pertama, perawi (atau orang) yang menyampaikan (informasi) harus memiliki sifat ‘adalah, yakni memiliki integritas pribadi, bukan seorang pendosa besar atau sering kali melalukan dosa kecil, atau hal-hal yang tidak wajar menurut kacamata budaya masyarakat.

Kedua, persambungan sanad-nya. Dalam arti yang menerima informasi hidup semasa -bahkan ada yang mensyaratkan bertemu- dengan yang menyampaikan informasi sejak pemberi informasi pertama hingga yang terakhir.

Ketiga, memiliki ingatan yang akurat, baik dalam menerima maupun menyampaikan riwayatnya. Ini antara lain diketahui setelah membandingkan informasinya dengan informasi perawi-perawi yang lain.

Keempat, tidak terdapat ‘ilah, yakni cacat dalam penyampainnya baik pada sanad maupun matan-nya.

Kelima, tidak terdapat kejanggalan dalam periwayatannya dalam arti tidak bertentangan dengan suatu informasi yang lebih kuat.

Nah, dengan berpegang pada prinsip shahih atau tidaknya hadist Nabi saw. itu, kita bisa lebih selektif dalam menerima informasi yang sampai pada kita. Dari manapun asalnya. Mulai dari selektif terhadap sumber, jenis informasi, bagaimana keterkaitan dan koneksitas informasi, apakah informasi tersebut menghadirkan ketenangan atau keresahan dan sebagainya. Tidak mudah memang, tapi setidaknya kita bisa lebih berhati-hati. Wallahu’alambishawab.[]

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *