Tiga Tahun Zul-Rohmi

  • Whatsapp

Kerja sudah selesai tinggal menghitung strategi

 

Dr. Salman Faris
Dr. Salman Faris . / Foto: Istimea/www.ntbpos.com

Oleh : Salman Faris

Tiga tahun yang sudah berlalu ialah tahun harapan masyarakat agar ZulRohmi bekerja dan memberikan yang terbaik. Sedangkan dua tahun ke depan ialah tahun harapan ZulRohmi untuk dapat meneruskan jabatan (Amak Kesek).

Berlanjut atau tidaknya kekuasaan ZulRohmi tidak hanya ditentukan oleh usaha keras mereka, namun dipastikan juga oleh dengan siapa mereka duduk dan berbicara (Amat Ocong).

Kita memahami yang masa jabatan politik ialah lima tahun. Namun apakah dalam praktik kekuasaan, relevansi antara masa jabatan dengan praktik kerja sesuai? Kita dapat melihat dari kontradiksi kelaziman dengan realitas yang banyak dijumpai. Umumnya, kekuasaan digunakan untuk bekerja dalam konsep pengabdian dan mendermabaktikan diri kepada rakyat itu sepanjang-panjangnya tiga tahun. Setelah itu cerita sudah lain.

Masuk tahun keempat dan kelima, kita dapat melihat umumnya kekuasaan digunakan untuk merancang dan melaksanakan strategi pemertahanan kekuasaan. Para pengumpat politik menyebut sebagai tahun politik.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pembagian masa kerja kekuasaan secara umum ada dua, yakni tiga tahun untuk bekerja memenuhi janji visi misi dan dua tahun seterusnya ialah kerja politik yang ditujukan untuk melanjutkan lezatnya kekuasaan. Entah usaha tersebut masih dalam paket yang sama atau berpisah untuk sama-sama memperebutkan posisi teratas.

Namun apabilia ditilik secara radikal, sebenarnya, keseluruhan kerja kekuasaan ialah kerja politik. Beberapa ciri dapat dilihat. Misalnya dalam pengaturan jenis dan bentuk kegiatan. Termasuk dalam mempertarungkan politik anggaran. Hal yang paling kerap jadi sorotan ialah mutasi jabatan birokrat. Ciri-ciri ini tidak dapat dilepaskan dari kerja politik yang bagaimanapun, ia selalu bertujuan untuk keberlanjutan politik kuasa. Sebersih dan secanggih apa pun satu kekuasaan ia tetap sebagai media pengoperasian politik kuasa.

Jadi, sebagai rakyat, haram hukumnya bermimpi melihat penguasa bekerja sepenuhnya untuk rakyat. Landasan ontologisnya ialah, kekuasaan itu jabatan politik, maka segala hal tindak tanduk harus berlandaskan paradigma dan landas pacu politik. Penguasa memberikan sumbangan sekadar sebutir telur pun, tak dapat dilihat semurni sumbangan kaum mukhlisin karena konteks kekuasaan yang melekat dalam diri penguasa tersebut ialah politik.

Boleh jadi sebagai penguasa, ia terdorong semurni kaum mukhlisin, namun tim yang mengitarinya akan selalu berhitung untung rugi. Kepada siapa, kapan, di mana, bagaimana cara, apa medianya, bagaimana pendistribusian, dan penglibatan wartawan ialah perhitungan yang terus berputar-putar dalam kesatuan utuh. Politik kuasa tak akan membiarkan sebutir telur kosong makna dan fungsi. Jangankan sebutir telur, sedebu sumbangan pun harus berkontribusi politis. Begitulah hakikat politik kuasa.

Maka rakyat tidak boleh heran jika penguasa lebih takut kepada partai politik dibandingkan kepada rakyat itu sendiri. Yang begini, rakyat seharusnya dididik atau mendidik diri sendiri agar mereka paham untuk tidak terlalu berharap sepenuhnya kepada penguasa. Karena harapan yang tidak tertunai pada akhirnya menimbulkan kemelut sosial.

Namuan demikian, sejenak kita melihat yang tiga tahun kekuasaan ZulRohmi sebagai periode kerja. Meskipun pertanyaan akan membiaskan ribuan guratan. Yang pasti, periode kerja ZulRohmi sudah selesai. Mereka tidak ada kesempatan lagi untuk bekerja karena waktu bekerja itu sudah berlalu.

Biarlah hati nurani mereka yang menilai, adakah mereka telah menggunakan kesempatan tiga tahun tersebut dengan cerdas dan cermat atau malah telah menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Sebab, jika publik yang terus menilai, malah akan menimbulkan kegaduhan tak bermutu. Lagi pula, penilaian itu tak akan berhasil mengulang kembali tiga tahun yang sudah tertiup angin itu.

Akan tetapi, yang namanya publik, menilai ialah salah satu medan ekspresi, maka kita akan jumpai yang dalam masa tiga tahun bekerja ZulRohmi itu pula banyak penilaian yang timbul. Tentu saja penilaian ini amat bergantung motif penilai. Motif yang ditentukan oleh bagaimana dan apa hubungan penilai dengan ZulRohmi. Jika yang menilai berdiri sebagai oposisi, maka tiga tahun masa berkerja ZulRohmi ialah kegagalan. Hal sebaliknya penilaian dari mereka yang bersetali tiga uang, kerja ZulRohmi ialah inovasi dan pengabdian berkarat tinggi.

Dualisme penilaian semcam itu ialah wajah-muka sebenar politik kuasa. Jika tak ada opisisi, maka politik, demokrasi, dan kekuasaan sejatinya sudah runtuh. Maka cacian dari oposisi sepatutnya tidak boleh dipandang sebagai pelanggaran hukum, sebaiknya juga tidak memandangnya sebagai pelanggaran etika-moral. Malah, cacian ialah kewajiban di barisan oposisi sebagaimana wajibnya sanjungan di talian pengikut penguasa.

Yang sangat menarik ialah, tidak boleh ada penengah dalam gaduh politik kuasa karena pergaduhan ialan samudera paling hakiki kekuasaan. Dalam politik kekuasaanlah kita tak boleh berharap menjadi pendamai. Karena kedamaian dalam politik ialah kematian kekuasaan itu sendiri. Namun demikian, hanya pergaduhan yang bermutu dapat mencerdaskan, di luar itu, pergaduhan hanya pelipur lara yang banyak sia-sia.

Nah, sebagai penguasa, ZulRohmi tidak boleh menempatkan secara tumpang tindih antara hasutan dengan sanjungan. Karena kedua hal ini ialah vitamin dan nutrisi dasar yang sangat penting dalam keberlangsungan kekuasaan. Hasutan dan sanjungan tak boleh ditempatkan pada meja yang berbeda. Hasutan dan sanjungan harus sejajar di meja yang sama. Dengan begitu, malahan yang harus dilihat sebagai titik penyesalan tertinggi ialah jika ZulRohmi tidak menggunakan secara cerdas dan bijaksana masa tiga tahun bekerja tersebut untuk berselancar secara melodius dan harmonius. Sebab tiga tahun itu tidak akan pernah kembali.

Karena itu, disebabkan kesempatan bekerja itu sudah berlalu, suka tidak suka untuk sepenggal dua tahun mendatang ZulRohmi diperhadapkan dengan kenyataan yang tak boleh ditampik. Menghindarinya berarti menjerumuskan diri ke penyesalan mendalam. Menggelapkan diri ke kerugian besar. Kenyataan itu ialah apa yang sudah disebutkan di atas, yakni tahun politik.

Bahkan tahun politik sudah berlangsung menjelang beberapa hari sebelum masa tiga tahun berkerja benar-benar berlalu. Ciri ini dapat dilihat pada narasi yang berseliweran. Narasi ZulRohmi jilid dua. Narasi ZulRohmi berpisah. Narasi Rohmi berpeluang menjadi nomor satu. Narasi dua wanita memimpin NTB. Narasi Rohmi memimpin partai Nasdem, ada juga narasi Zul ditunjuk partainya sebagai calon presiden, termasuk narasi Zul akan bertanding di DKI jakarta, dan banyak lagi. Narasi ini ialah karakter utama tahun politik. Narasi tersebut ialah plot pembuka untuk dapat mempelajari bagaimana klimaks akan dibangun sebelum akhirnya memutuskan ending narasi.

Dalam masa dua tahun ke depan, ZulRohmi tidak boleh beharap menjadi orang suci sebagaimana kaum mukhlisin. Karena apa pun yang dibuat, angin akan selalu menghembuskan aroma politik. Segala program, sejitu dan sefundamental apa pun itu, ia tak akan sepenuhnya dilihat sebagai bekerja murni. Malah sebaliknya, boleh jadi sepenuhnya dipandang dan dimainkan sebagai agenda politik dapat terjadi. Salah satu episode paling hangat ialah politik anggaran karena pada dua tahun politik ke depan, dugaan ZulRohmi menggunakan kekuasaan untuk tujuan politik akan terus bertalu-talu.

Jika pengamat menilai, tiga tahun masa bekerja ZulRohmi yang sudah berlalu itu sebagai penggal waktu yang sulit dan memberatkan ZulRohmi, maka untuk dua tahun yang mendatang ribuan kali lebih mencekam. Banyak drama akan bersimpang siur. Sinetron politik yang tanpa episode itu akan terus merunyamkan jagat informasi di tengah masyarakat. Siapa yang paling lelah dan terseok-seok dalam buritan? Tentu saja ZulRohmi. Analoginya, peran utama dalam sinetron memang paling terkenal dan bergaji tinggi, namun sejatinya, batin dan fisik mereka lebih lelah dibandingkan peran pembantu dan figuran lain.

Bayangkan saja, Rohmi yang sekadar rindu rumah dan ingin melepas kangen bersama keluarga di Lombok Timur berpotensi besar dinilai yang Rohmi membagikan sumbangan kepada ormas yang menaunginya. Meski itu fitnah, misalnya, ia akan menjadi sinetron paling unggul dalam rentang dua tahun politik tersebut. Begitu juga Zul, meskipun ke Sumbawa untuk hadiri sunatan anak saudaranya pun berpeluang dinilai sebagai kepulangan penggalangan politik menggunakan uang negara. Penilaian semacam itu ialah skenario terbaik dalam ramuan sinetron politik.

Rohmi berjumpa salah seorang tokoh tanpa sengaja di tengah jalan, bidikan kamera dan narasi akan terbangun sebagai perjumpaan politik. Zul yang sebelumnya memakai celana pendek diterima sebagai nature habitus, maka dua tahun potitik ke hadapan, celana pendek tersebut berkemungkinan berwajah dua. Celana pendek yang menguntungkan Zul karena berterima di kalangan egaliterian, misalnya. Namun wajah yang lain pula dapat meruntuhkannya karena dipolitisir sebagai melanggar adab pemimpin. Begitulah menu politik itu disajikan dan disantap secara leluasa dan rakus tanpa henti dalam rentang dua tahun politik.

Karena situasi tahun politik ini sangat siluman, maka suka tidak suka, ZulRohmi wajib mempunyai kesadaran simulakra, yakni mensimulasikan segala program sebagai citra. Mereka harus punya kehendak untuk menegosiasikan antara hati nurani dan keperluan praksis. Karena mau membuat program sesuci apa pun, publik tetap akan mengaitkan dengan strategi politik kuasa.

ZulRohmi harus berani berganti watak dalam peran yang sama. Kemampuan monolog amat diperlukan meski mereka tidak ada bakat dan minat dalam soal ini. Persentase watak dasar yang baik harus proporsional dengan watak simulakra baik. Jika tiga tahun bekerja, turun ke masyarakat ialah sifat murni Rohmi sebagai orang baik, maka untuk dua tahun politik watak tersebut terkonversi ke dalam strategi politik. Rohmi tidak boleh tersinggung jika diserang publik sedang menggunakan kekuasaan untuk mengkampanyekan agenda meneruskan kekuasaan.

Kenapa pergantian watak dalam peran sama ini diperlukan? Sebenarnya bukan ZulRohmi yang memerlukan. Melainkan alur dua tahun politik menuntut demikian untuk memenuhi lakonan publik. Publik menghendaki kekayaan watak agar mereka dapat berpartisipasi sepanjang dua tahun politik tersebut. Sebagai watak utama (petahana) suka tidak suka, ZulRohmi menjadi pusat sorotan kamera dan lampu pertunjukan. Lawan (penantang) sebagai watak antagonis memerlukan menu yang beragam pada setiap adegan. Karena dengan begitu, alur pertarungan politik dapat menghasilkan kepuasan sekaligus kemenangan.

Apabila selama tiga tahun masa bekerja yang sudah berlalu itu, Zul mencitrakan diri sebagai pemimpin gaul, sebagai gubernur fisbuk (bukan hanya gubernur NTB), dan citra yang dibangun itu ialah watak murni. Maka masa dua tahun politik tersebut harus terkonversi ke dalam kesadaran strategi politik pemertahanan kekuasaan. Fisbuk melampaui tandanya, yakni sebagai panggung drama.

Apa yang tergambar dari narasi di atas ialah betapa rumit dan kelabunya dua tahun di masa hadapan. Meskipun ZulRohmi masih mau bekerja seperti suasana tiga tahun sebelumnya, namun kemauan itu harus tercebur ke dalam alur natural dua tahun politik. Kerja bercampur aduk dengan strategi politik dalam pandangan publik. Dua tahun politik ialah plot yang serba salah. Bekerja sebagai gubernur dan wakil gubernur akan selalu dilihat sebagai penggunaan kuasa untuk tujuan politik. Tidak bekerja lebih buruk lagi. Ini ialah salah satu ciri utama plot kelabu itu. Dan ini pula yang dimaksudkan sebagai kesempatan emas tiga tahun sudah berlalu.

Hanya saja, terlepas dari plot kelabu sebagaimana Faust karya Johann Wolfgang von Goethe, sebagai plot berat bagi watak utama, namun apabila kesadaran yang sama terbangun di tengah masyarakat, yakni masa dua tahun politik ZulRohmi ialah keniscayaan strategi politik, boleh jadi akan mencerdaskan masyarakat sekaligus mengurangi pergesekan sepanjang dua tahun kontestasi politik berlangsung. Jika kesefahaman itu boleh diharmonisasi dalam kecerdasan sosial dan politik, sekurang-kurangnya akan mengurangkan dosa saling mencurigai. Dosa pekat politik terkurangi karena saling memahami yang watak utama (petahana), penantang (watak antagonis) publik (seolah-olah tritagonis) sedang menjalankan peran masing-masing di plot drama politik musiman.

Mengarungi plot kelabu, melelahkan, dan alur pusaran labirin jiwa itu, yang paling diperlukan ZulRohmi ialah teman, sahabat, rekan sejati. Banyak buih menghampiri, itu pasti. Namun sebaik-baik buih ialah bukan busa dari mulut periuk nasi.

Jangan sampai seperti Faust, demi satu tujuan, kehilangan hakikat diri. Tercebur ke samudera paling sunyi.

 

Malaysia, 19 September 2021

Berita Terkait

Leave a Reply