Tempat Wisata Ditutup, Pedagang dan Petani Stroberi Sembalun Merugi

  • Whatsapp
Salah Satu Petani Saat Sedang Merawat Stroberi di Kebunnya./Foto : www.ntbpos.co/Deni Umar Dani

LOMBOK TIMUR – Keluarnya Surat Edaran (SE) Bupati Lombok Timur tentang penutupan sejumlah tempat wisata di Lombok Timur menyebabkan  sejumlah pedagang dan petani stroberi di Sembalun merugi.

Dengan adanya penututupan selama empat hari tersebut, sejumlah pedagang kecil di lereng rinjani mengaku bangkrut karena tidak adanya wisatawan yang berkunjung.

Salah satu pedagang stroberi di Sembalun, Inaq Hidya, kepada NTBPOS, mengungkapkan kekecewaanya terhadap kebijakan bupati tersebut.

“Kami kecewa karena terlalu lama terjadi penutupan karena sangat merugikan pedagang dan petani stroberi, apalagi stroberi ini kan tidak tahan lama,“ katanya, Jum’at, 21 Mei 2021.

Selain itu, Hidya juga menyebut kebijakan penutupan tempat wisata ini tidak senada dengan tempat keramaian lainnya, seperti mall dan pasar.

Baca Juga

“Seharusnya dari bulan puasa kan mall, pasar, banyak kerumunan lebih padat, kalau masalah wisata Sembalun kan masih ada jarak orang karena luas,“  jelasnya.

Ia juga menuturkan, biasanya setiap hari mengumpulkan sekitar setengah kwintal dari petani untuk dijual ke wisatawan yang berlibur, namun sejak penutupan akses ke Sembalun dirinya hanya bisa menjual sekitar lima kilogram saja.

“Kita ngambil dari petani harga mahal, terus sekarang tiba-tiba jalannya ditutup, itu yang menyebabkan kami merugi,“ tuturnya.

Sementara itu, ditempat berbeda Amaq Ledya, salah satu petani stroberi juga mengaku kecewa karena biasanya setiap hari libur banyak pengunjung yang meminta petik sendiri di kebunnya, namun saat ini tidak ada satupun wisatawan yang berkunjung.

“Yang masuk sekitar dua ratus, tapi setelah ditutup satupun orang gak ada, apalagi mau metik yang lewat aja gak ada,“ ungkapnya.

Lebih lanjut, Amaq Ledya menjelaskan kondisi stroberi di kebunnya yang sudah merah dan siap untuk di panen. “jadinya stroberi ini mau dibawa kemana, sudah merah-merah dan mau busuk,“ keluhnya.

Selanjutnya pria yang berprofesi sebagai petani dan pengepul stroberi tersebut juga meminta kebijaksanaan pemerintah supaya  ada kompensasi atau solusi penekanan mobilitas masa tidak berupa penutupan akses.

“Kami dari petani stroberi mohon kebijaksanaannya lah,“ tandasnya. np

Berita Terkait

Leave a Reply