Syamsul Luthfi : ITDC Jangan Menjadikan Orang Lokal Hanya Sebagai Penonton

  • Whatsapp

“Menjadi PR berat kita untuk selalu mengingatkan jajaran manajemen ITDC supaya jangan masyarakat kita menjadi penonton dan merasa asing dirumah mereka sendiri”

Anggota Komisi II DPR RI Dapil Provinsi NTB II/Pulau Lombok, HM Syamsul Luthfi, SE, M.Si ./Dok. www.ntbpos.co

LOMBOK TENGAH – Anggota Komisi II DPR RI Dapil Provinsi NTB II/Pulau Lombok, HM Syamsul Luthfi, menyoroti investasi di wilayah selatan Lombok Tengah yang banyak dikuasi oleh orang luar.

Padahal kata dia, masih banyak investor lokal yang memiliki modal, dan siap melakukan investasi untuk mengelola destinasi wisata wilayah itu. Namun menurut Syamsul Luthfi sampai saat ini tidak diberikan kesempatan.

Karena itu Syamsul Luthfi menegaskan pemerintah harus memberikan kesempatan yang sama kepada pengusaha lokal. Karena jelas mereka juga dianggap mampu dan bisa menggandeng orang luar yang memiliki modal.

“Kalau pengusaha lokal diberikan kesempatan dan berdayakan, maka dampaknya tentu akan lebih banyak juga menyerap tenaga lokal,” kata anggota fraksi NasDem Syamsul Luthfi, dalam keterangan tertulis, Ahad, 9 Mei 2021.

Baca Juga

Dikatakan kalau pengusaha lokal diberikan kesempatan, maka hasil usaha mereka juga pasti akan diputar di Lombok, jika dibandingkan dengan pengusaha luar. Ia membeberkan bahwa kurangnya pengusaha lokal yang diberikan peluang berinvestasi selama ini hanya pada persoalan manajemen saja seperti yang dilakukan ITDC .

“Seperti ITDC, manajemen lama, lebih condong menganak emaskan orang- orang luar dibandingkan dengan pengusaha lokal. Bahkan sebelumnya beredar informasi sudah mengkapling lahan-lahan di ITDC untuk menggandeng orang-orang luar. Padahal dari segi modal pengusaha lokal juga mampu,” terangnya.

Sampai saat ini, tegas Syamsul Luthfi, di kawasan KEK Mandalika belum ada yang dilihat masuk pengusaha lokal. Bahkan rencana-rencana pembangunan hotel megah banyak dilakukan oleh orang luar.

“Makanya ini menjadi PR berat kita untuk selalu mengingatkan jajaran manajemen ITDC supaya jangan masyarakat kita menjadi penonton dan merasa asing dirumah mereka sendiri,” tegasnya.

Belajar dari Provinsi Bali, masyarakat lokal benar-benar diberdayakan dengan sistem banjar mereka. Maka penting mengadopsi kearifan lokal Bali. Terlebih potensi yang ada di Lombok Tengah cukup bagus dalam pengembangan pariwisata ke depan. Apalagi saat ini menjadi perhatian pemerintah pusat.

Politik pariwisata sudah lama masuk ke Lombok Tengah. Banyak investor luar yang sudah menanamkan investasinya di daerah lain, tidak rela kalau Lombok maju. Karena kalau Lombok ini maju, maka akan berkurang pendapatan mereka di investasi yang sudah ada diluar,” tambahnya

Investor Luar, Modus Menguasai Lahan

Syamsul Luthfi juga menyampaikan, banyak lahan-lahan di wilayah selatan yang dikuasai oleh orang luar, dan menggunakan cara-cara yang tidak benar. Dimana mereka menguasai lahan tapi tidak melakukan pembangunan dan menjadikan lahan tersebut menjadi mangkrak.

“Makanya harus ada koordinasi yang baik antara pemerintah kabupaten, provinsi dan para pelaku wisata yang ada di kawasan wisata itu,” tambahnya.

Tidak bisa dipungkiri, kalau para pelaku wisata tidak terbuka memberikan informasi, maka pemerintah juga akan kesulitan mendeteksi kasus-kasus yang terjadi. Banyak investor luar yang membayar tanah warga dengan harga murah, kemudian mereka membiarkan mangkarak setiap tahun dan tetap kumuh. Ini modus supaya daerah kita tidak berkembang.

“Makanya kita harus bersatu menyamakan persepsi. Jangan mudah dipecah-belah. Setiap orang baru masuk belum tentu juga punya niat yang baik. Jadi kita harus selektif. Semua ini juga tidak terlepas dari koordinasi antara pemerintah dan masyarakat yang masih kurang,” pungkas Luthfi. np

Berita Terkait

Leave a Reply