Sepanjang Tahun 2021, DLH Lotim Mencatat 15 Galian C Ilegal

  • Whatsapp
Tohri Habibi, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan Hidup, DLH Lotim./ Foto : Unra/www.ntbpos.com

LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com – Sepanjang tahun 2021, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lombok Timur (Lotim), mencatat sebanyak 15 Galian C Ilegal di bibir sungai sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan, karena aktivitasnya melibatkan alat berat.

Merujuk pada peraturan daerah nomor 8 tahun 2013 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang menegaskan larangan membuang limbah ke sungai.

“Jadi tidak boleh siapapun itu, ketika perusahaan penambang membuang limbah ke sungai,“ ucap Tohri Habibi, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan Hidup, DLH Lotim, kepada wartawan ntbpos.com, Rabu, 22 Desember 2021.

Berdasarkan kewenangan DLH, lanjutnya, khususnya di bidang pengendalian dan pencemaran, terus berupaya menghentikan terjadinya pencemaran.

Biasanya, kata Tohri, penambang pasir bertempat di bibir sungai, air yang digunakan untuk mencuci pasirnya dari sungai, kemudian airnya di buang langsung ke sungai.

Baca Juga

“Jika seperti itu, maka kita tindaklanjuti bersama dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menertibkan mereka berdasarkan Perda,“ jelasnya.

Walaupun demikian, penambang yang masuk daftar hitam tersebut masih ada beroperasi secara diam diam, namun ada juga yang berhenti, tapi masih ada yang main kucing-kucingan dengan petugas.

Tohri menyebut, tidak hanya Galian C di daerah bibir sungai semata, jauh dari bibir sungai sekalipun, selama aktifitasnya mencemari lingkungan hidup, akan ditindak.

“Contohnya seperti Galian C di Kecamatan Labuan Haji, jauh dari sungai, tetapi dia membuat aliran air ke sungai untuk membuang limbahnya. Kami tertibkan juga,“ ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sepanjang tahun 2021, dirinya mengaku memiliki data jumlah Galian C yang mencemari lingkungan hidup, berdasarkan data by name by address .

Dirinya menyebut, sejumlah data galian C legal maupun Ilegal yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan hidup, sudah diberikan kepada aparat penegak hukum.

Ia berharap, dengan data tersebut, aparat  tegas menyingkapi penambang yang melakukan aktifitasnya sampai mencemari lingkungan hidup.

Menurutnya, penambang yang membuang limbah ke sungai memiliki resiko besar bagi ekosistem sungai, lingkungan dan masyarakat.

“Kalau limbah penambang di buang ke sungai dapat menyebabkan kekeruhan air, imbasnya ke petani dan ekosistem sungai. Aliran sungai menjadi dangkal, sehingga menyebabkan air sungai meluap ke permukiman,“ pungkasnya. np

Berita Terkait

Leave a Reply