Satu Tahun Bersinergi, Pemda Lotim Sukses Membentuk Herd Immunity

  • Whatsapp
Bupati Lombok Timur (tengah), Didampingi Wakil Bupati (kanan) dan Dandim 1615/Lotim (kiri) Beserta Kapolres Lotim (paling kanan) dan Sekda Lotim (paling kiri)./ Foto : Dok. ntbpos/www.ntbpos.com

LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com – Wabah virus Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia WHO sejak 11 Maret 2020 lalu. Berselang beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Maret 2020, situasi di Lombok Timur mulai mencekam karena adanya kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi NTB mengeluarkan rilis resmi, pasien nomor 01 merupakan cluster Jakarta yang merupakan warga Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur.

Pasca mencuatnya kasus itu, upaya untuk mencegah penularan dilakukan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, diantaranya dengan melakukan tracking kontak dan penyemprotan cairan disinfektan.

Adanya korban meninggal dunia akibat terpapar virus corona membuat situasi di Lombok Timur kian genting, selain ancaman terpapar virus, keselamatan petugas juga terancam oleh beberapa keluarga pasien yang menolak keluarganya dimakamkan sesuai dengan protokol covid.

Pemakaman Salah Satu Warga Desa Jerowaru, Yang Menjadi Korban Covid-19 pada Februari 2021 Lalu./ Foto : Suandi Yusuf/www.ntbpos.com

Puluhan keluarga pasien juga harus menjalani perawatan dan isolasi mandiri. Pekerjaan itu bukan hal yang mudah, butuh kekuatan ekstra dan nyali yang kuat untuk menghadapi kondisi selama pandemi, sebab banyak hal terjadi diluar rencana dan perkiraan.

Bencana non alam tersebut juga memaksa seluruh aktivitas masyarakat mulai dibatasi, berbagai isu tentang keganasan virus mematikan tersebut beredar dengan cepat melalui berbagai media. Pemerintah mulai disibukkan dengan pencegahan dan penanganan virus menular yang mengancam nyawa manusia itu.

Tidak hanya itu, pemerintah justru dihadapkan dengan permasalahan yang lebih berat, yakni retaknya kerukunan warga. Bagaimana tidak, penderita dan keluarga dekatnya mulai dikucilkan. Jaga jarak untuk menghindari penyebaran virus menjadi alasan pembenaran.

Dahsyatnya serangan wabah yang diketahui pertama kali muncul di Wuhan, China pada tahun 2019 lalu, membuat semua warga tercengang karena dipertontonkan dengan kondisi ratusan korban yang tiba-tiba terkapar di jalan-jalan, dibiarkan begitu saja sampai mereka menemukan ajalnya.

Rasa empati, jiwa manusiawi hampir saja hilang ditelan bumi karena setiap ada warga yang tiba-tiba terkapar di jalan, tidak ada yang peduli. Raga manusia yang mati saat itu akan pergi dengan sendiri tanpa iringan keluarga, sahabat dan Kolega.

Hal itu menyebabkan dunia semakin mencekam, mengingat saat itu belum ada satu negara pun yang mengetahui obat untuk menyembuhkan penderita dari virus tersebut.

Hampir setahun masyarakat menjalani hidup diluar kebiasaan, Masjid di tutup, Sekolah diliburkan, objek wisata serta tempat-tempat yang berpotensi terjadinya kerumunan masa juga tidak diizinkan, kecuali pasar.

Bahkan kegiatan sosial kemasyarakatan seperti “nyongkolan” dan “begawe” pun ditiadakan serta warga diminta harus mematuhi protokol kesehatan covid-19 secara ketat.

Lesunya perekonomian menjadi alasan Pemerintah Daerah tidak menutup aktivitas pasar waktu itu, namun tetap dilakukan pembatasan. Alasan lain adalah, kebutuhan masyarakat juga harus terpenuhi selama akses keluar masuk di sebuah daerah ditutup (Lockdown) diberlakukan.

Pada akhir tahun 2020, beberapa negara mulai melakukan vaksinasi untuk golongan tertentu yang dianggap rentan tertular, seperti tenaga kesehatan, pejabat negara dan pelayan publik lainnya. Amerika Serikat menjadi negara pertama melakukan vaksinasi, disusul Jerman, Spanyol dan Inggris.

Awal tahun 2021, pemerintah Indonesia telah memesan sekitar 143 juta dosis vaksin Sinovac dan mulai digunakan setelah melewati uji klinis untuk memastikan keamanan vaksin. Sebanyak 10.720 vial vaksin Sinovac tiba di Kabupaten Lombok Timur pada pekan keempat Januari 2021.

Vaksinasi dosis pertama dimulai 1 Februari 2021, bertempat di Pendopo Bupati Lombok Timur. Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, Drs. H. M. Juaini Taofik menjadi penerima dosis vaksin pertama dan diikuti Forkopimda Lombok Timur.

Sekretaris Daerah Lombok Timur, H. M. Juaini Taofik, Saat Menerima Suntikan Vaksin Dosis Pertama di Pendopo Bupati Lotim./ Foto : Dok. PKP Lotim/www.ntbpos.com

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur meyakini bahwa dengan terbangunnya sinergi antara pemerintah Kecamatan, Kepolisian dan TNI, proses vaksinasi di Lotim antusias diikuti oleh masyarakat.

“Dengan terbangunnya sinergi bersama beberapa pihak, tentunya vaksinasi akan berjalan lancar sesuai dengan harapan,“ tandasnya.

Kegiatan Vaksinasi Yang Berlangsung di Kantor Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Pada Bulan Juni Lalu. Pemerintah Kecamatan Bersama TNI/Polri Terus Bersinergi Mengawal Proses Vaksinasi./ Foto : Suandi Yusuf/www.ntbpos.com

Harapan itupun terwujud beberapa bulan kemudian, terbukti dengan angka kesembuhan Covid-19 di Lotim cukup tinggi, yakni mencapai 2. 205 orang. “Waktu itu persentase kesembuhan menembus angka 93,9 persen, angka yang cukup bagus,“ kata Pathurrahman.

Kendati demikian, selain melaksanakan vaksinasi, kata kunci untuk melawan Covid-19 adalah 3T (Tracking, Testing, Treatment), Serta 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci tangan) dibudayakan ditengah masyarakat.

Dikutip dari media Kompas.com, Kepala Ilmuwan World Health Organization (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan, vaksinasi dapat membentuk imunitas dan herd immunity atau kekebalan kelompok secara aman.

Ia menyebut, vaksinasi merupakan pilihan yang lebih baik daripada melalui infeksi alami, karena akan membutuhkan biaya dan manusia yang banyak.

Menyambut kabar baik itu, Sekretaris Daerah Lombok Timur, H. M. Juaini Taofik mengatakan, dirinya mendapat direktif Bupati untuk mengerahkan semua OPD mendampingi vaksinator di lapangan. Langkah tersebut merupakan terobosan untuk mempercepat herd imunity di Lotim

Di samping itu, lanjutnya, Forkopimda juga sudah mengajak seluruh Kepala Desa (Kades) berperan aktif dengan strategi sederhana yang dikemas dalam bentuk Coffe Morning bersama awak media dan semua Kades di Lotim, bertempat di Makodim 1615.

“Pak Kapolres juga membentuk Batalyon Primary Care (P-Care) untuk mempercepat penginputan data ke sistem bagi warga yang sudah mendapatkan dosis vaksin,“ katanya, Jum’at, 3 Desember 2021.

Selain itu, Bupati juga memberikan dukungan dana kepada Pemerintah Kecamatan, walaupun jumlahnya terbatas namun menurut Sekda, hal itu dilakukan sebagai bentuk motivasi ke petugas lapangan.

Sekda menyebut, dalam mempercepat terbentuknya herd immunity tidak hanya menjadi tugas pemerintah tapi arahan dan bimbingan tokoh agama, tokoh masyarakat dan Kepala Desa justru lebih efektif dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Salah Satu Tokoh Agama di Desa Sukaraja Sedang Menerima Suntik Vaksin Dari Tim Vaksinator Puskesmas Sukaraja Pada Acara HUT Bhayangkara Ke-75 Pada Juni 2021 Lalu./ Foto : Suandi Yusuf/www.ntbpos.com

“Peran Media untuk memberitakan hal-hal positif tentang vaksin juga sangat mempengaruhi tingkat kesadaran masyarakat. Slogan, tiada hari tanpa vaksin, termasuk hari libur pun sangat mendorong percepatan herd imunity di Lotim,“ ujarnya.

Menurut Sekda, berkat kerjasama yang baik dari semua pihak dan atas kesadaran masyarakat, herd immunity di Lombok Timur bisa terwujud setelah 70 persen masyarakat sudah melakukan vaksinasi dosis pertama.

Tidak Ada Keraguan, Salah Satu Warga Desa Sukaraja, Kecamatan Jerowaru Siap Menerima Vaksin Dosis Pertama Pada Juni 2021 Lalu./ Foto : Suandi Yusuf/www.ntbpos.com

Dampak positif dari terbentuknya herd immunity tersebut membuat geliat ekonomi warga berjalan, mulai dari dibukanya objek wisata, normalnya pembelajaran di Sekolah serta tidak adanya pembatasan kerumunan masa. Namun pemerintah menghimbau untuk tetap menggunakan masker, karena pandemi belum berakhir.

“Slogan hidup produktif di tengah pandemi bukan pepesan kosong karena sudah bisa kita buktikan bersama. Geliat dunia usaha nampak di pertokoan, ritel dan tempat-tempat wisata,“ ungkap Sekda.

Fakta dilapangan, tambahnya, selama varian baru dari virus ini tidak masuk ke Indonesia, hampir dapat dipastikan bahwa covid-19 di Lombok Timur khususnya sudah bisa ditaklukkan.

Meski demikian, harus diakui bahwa biaya yang dikeluarkan Pemerintah Daerah untuk menangani hal tersebut sangat besar dan itu tidak hanya terjadi di Lombok Timur, tetapi secara nasional.

Diakuinya bahwa sejak akhir 2020, sebenarnya APBD Lotim dan semua daerah sudah terganggu. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari giat ekonomi masyarakat terkontraksi karena adanya pembatasan.

“Artinya, dengan terbentuknya herd immunity, pembatasan bisa dikurangi, geliat ekonomi tumbuh, PAD terpenuhi dan kita bangkit,“ tegas Taofik.

Sementara itu, dampak ekonomi yang dimaksud Sekda, dirasakan langsung oleh para pelaku usaha hingga tingkat terbawah. Salah satunya seperti yang dialami seorang pedagang di Desa Jerowaru.

“Dulu sebelum corona, jam 11 saya sudah pulang karena barang saya sudah habis, itupun saya hanya masuk ke beberapa tempat, terkadang banyak pelanggan yang protes karena tidak kebagian,“ tutur Nurjannah, seorang penjual sayur keliling di Desa Jerowaru.

Nurjannah (31), Pedagang Sayur Keliling di Desa Jerowaru, Merasakan Dampak Positif Kegiatan Vaksinasi Untuk Membentuk Herd Immunity./ Foto : Suandi Yusuf/www.ntbpos.com

Begitu ada corona, lanjutnya, sampai jam 11 dirinya masih keliling namun terkadang dagangan masih banyak tersisa dan harus disimpan untuk dijual keesokan harinya jika tidak rusak.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai normal, sejak 3 bulan yang lalu barang saya selalu habis terjual, kalaupun ada sisa tapi tidak banyak. Dulu (sebelum corona, red) kalau saya belanja di pasar dengan modal 1,3 juta, jam 11 saya sudah pulang tapi setelah corona itu, modal 700 ribu saja kadang tidak habis. Sekarang kita sudah berani belanja barang lebih dari itu,“ ujarnya.

Wanita tangguh berusia 31 tahun asal Dusun Pelambik, Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru itu mengungkapkan bahwa, dirinya juga ikut menghimbau kepada setiap pelanggannya untuk tidak takut di vaksin sehingga aktivitas bisa kembali normal.

“Kalau saya sedang jualan, saya selalu bilang supaya jangan takut vaksin karena jarum vaksin itu tidak sakit, saya aja setelah vaksin tidak apa-apa. Seandainya kita belum divaksin, belum tentu keadaan kita akan seperti sekarang ini,“ tuturnya penuh semangat. np

Berita Terkait

Leave a Reply