Proyek Pemda di Kawasan Pantai Ekas Dihentikan Pemilik Lahan

  • Whatsapp
Lahan Warga Atas Nama H. L. Mustiarep di Kawasan Pantai Ekas Sudah Dipagari Bambu./ Foto : Suandi Yusuf/www.ntbpos.com


LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com – Pemilik lahan yang masuk dalam kawasan perencanaan penataan pantai Ekas Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, meminta pekerja proyek Pemerintah Daerah tersebut menghentikan pembangunan talut yang melintas dilahan miliknya.

Porogres proyek Pemda yang direncanakan dengan anggaran miliaran Rupiah tersebut saat ini sedang melakukan penalutan di sepanjang sepadan pantai. Namun pekerjaan yang sedang berproses tersebut dihentikan karena pemilik lahan membuat pagar keliling menggunakan bambu.

Salah satu warga yang mengaku pemilik lahan atas nama  H. L. Mustiarep langsung melakukan protes dengan memagari lahan miliknya karena pembangunan talut tersebut masuk ke lahan miliknya.

“Begitu saya tau ada pengerjaan proyek, hari Rabu kemarin saya cek ke lokasi dan meminta pekerja menghentikan pembangunan itu. Saya langsung pagari dengan bambu karena sejauh ini tidak ada pihak yang sudah berkomunikasi maupun koordinasi, kok tiba-tiba sudah ada talut,“ katanya, Sabtu, 4 September 2021.

Mustiarep mengaku bahwa lahan miliknya yang ada di kawasan pantai Ekas luasnya 35 are, sementara sebagian diambil tanpa permisi oleh Pemda selaku pemilik proyek.

Baca Juga

“Kenapa pemerintah daerah tidak berkomunikasi dengan pemilik lahan terlebih dahulu baru mulai dikerjakan, sehingga tidak ada masalah dikemudian hari. Apalagi di lahan saya sudah mulai dilakukan pengerjaan pentalutan oleh pemborong,“ ujarnya.

Kemudian dirinya datang ke lahan miliknya, Rabu lalu dan melihat lahannya sudah diambil oleh pengerjaan proyek tersebut, sehingga dirinya langsung meminta pemborong untuk menghentikan pengerjaan di lahan miliknya dan membuatkan pagar bambu.

“Bukan hanya saya tapi pemilik lahan yang lain juga merasa keberatan dengan sikap Pemda yang tidak berkomunikasi terlebih dahulu dengan pemilik lahan,“ ungkapnya.

Atas kejadian itu, dirinya bersama kepala Desa setempat dan Camat Jerowaru akan memenuhi panggilan Pemerintah Daerah besok Hari Senin (7/8) di Kantor Bupati guna membahas persoalan tersebut.

Padahal, lanjutnya, kalau melihat dilapangan sudah beberapa kali diadakan pertemuan dengan Kepala Dinas terkait namun belum pernah membahas persoalan kepemilikan lahan yang masuk dalam kawasan proyek Pemda tersebut.

Selain itu, Mustiarep juga menuturkan, dirinya pernah menghibahkan lahan miliknya untuk dijadikan jalan sepanjang puluhan meter dengan lebar 3 meter, termasuk jalan setapak satu setengah meter.‎

Namun setelah sekian lama dirinya mengetahui adanya informasi bahwa oknum mantan Kepala Desa Ekas Buana mengambil lahan yang dihibahkannya tersebut dan dijual ke salah satu perusahaan dengan harga sekitar Rp 60 juta.

“Jika lahan yang saya hibahkan itu dimasukkan dalam sertifikat oleh perusahaan itu, maka saya akan gugat karena tidak boleh ada pengklaiman sepihak, apalagi itu akses keluar masuk masyarakat,“ tegasnya. np

Berita Terkait

Leave a Reply