Pahlawan Nasional, Sekda NTB, Dan Kemarahan Sasak

  • Whatsapp
Kecewa dengan kebijakan Gubernur NTB H Zulkieflimansyah, Perwakilan Masyarkat Adat Sasak ( MAS ) dari masing kabupaten se Pulau Lombok hearing di kantor DPRD NTB Senin, 7 Februari 2022 . / Foto: Dok. MAS/www.ntbpos.com

Oleh: Salman Faris

yang aku rindu
ialah Sasak bergelombang
bukan Sasak
riak gelombang

yang aku mau
ialah sasak yang satu
bukan Sasak
yang satu satu

(SF, 2000)

Saya sering termenung sendiri dengan konstruksi sistem kebangsaan Sasak. Tertegun yang akhirnya membuat saya merasa aneh. Kok ada bangsa seperti ini. Saya tahu ada masalah dalam cara berpikir dan memahami historis, sosiologis, antroplogis mereka sendiri, namun saya tak pernah membayangkan kerumitan ini terus-menerus berlangsung. Seolah tak ada satu teori pun di dunia yang boleh memecahkan permasalahan bangsa satu ini.

Baca Juga

Sasak seolah menjadi antitesis semua teori sosial, budaya, politik, ekonomi, hukum bahkan agama. Akan tetapi mereka amat ruet mengkreasikan sintesis sendiri agar benang kusut kebangsaan mereka dapat terurai secara baik seperti yang dimaksudkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel, seorang filsuf berkebangsaan Jerman. Dalam bukunya yang berjudul Philosophy of History, Hegel menyatakan suatu negara (dalam hal ini boleh dikontekstualisasikan sebagai bangsa Sasak) merupakan kenyataan yang terus-menerus bergerak karena ada kesatuan yang utuh antara pemikiran dan nalar manusia yang membangun bangsa, negara tersebut.

Adakah apa yang dimaksudkan Hegel tersebut dapat dijumpai dalam orang Sasak sebagai satu bangsa? Mari kita melihat dalam huraian ringkas berikut ini.

Jika benar orang Sasak memerlukan kebanggaan, menghendaki harga diri dan kehormatan. Logikanya, semua nyawa yang bernama Sasak wajib bangga karena ada Pahlawan Nasional dari kalangan mereka. Satu kebanggaan yang tidak boleh dipertikaikan. Semua mereka sewajibnyalah menjadikan momentum Pahlawan Nasional itu sebagai salah satu landas pacu untuk menguatkan konektivitas kebangsaan mereka.

Tentu saja, karena orang Sasak amat memerlukan penghormatan bangsa lain dengan diletakkannya bangsa Sasak setara dengan bangsa lain, saya membayangkan setiap rumah, atau sekurang-kurangnya setiap RT di kampung-kampung Sasak memajang foto Pahlawan Nasional. Ini bukan igauan siang bolong karena memang orang Sasak sangat memerlukan representasi di kancah yang lebih luas. Kalau tidak perlu, kenapa mereka begitu banyak menghabiskan energi untuk perkara ini. Namun adakah ini berlaku?

Tentu saja tidak. Dalam hal kebanggaan yang sudah nyata pun mereka terkotak-kotak. Ada yang berada di kotak sangat bangga, ada yang berdiri di bilik sekadar bangga, kemudian biasa-biasa saja. Anehnya, ada orang Sasak yang sangat kuat berdiri di ruangan tidak bangga, bahkan tidak setuju, bahkan yang paling membingungkan, ada di antara mereka yang tidak suka yang, ditunjukkan secara sama-samar.

Lihat saja bagaimana reaksi sebagian mereka (yang kemudian menjadi eviden saya membuat korpus kebanggaan tersebut) ketika pergantian nama BIL menjadi nama Pahlawan Nasional dari kalangan mereka sendiri. Uih, ngeri. Bikin melongo. Satu kontradiksi absurd antara kebanggaan menjadi orang Sasak atau kebencian.

Ada di antara mereka yang turun ke jalan. Digerakkan oleh pemimpin pemerintahan. Gerakan penolakan yang berlangsung lama. Sebagian mereka mencaci maki, mencela, menghina, mengutuk. Mereka tidak segan-segan mengancam dan berjamaah membuat tanda tangan darah.

Alasan mereka macam-macam. Tidak hormat kepada yang berwenang, tidak ada musyawarah. Ada yang beralasan BIL milik mereka karena terletak di tanah mereka. Semua alasan itu sungguh-sungguh absurd karena ratusan tahun orang Sasak mengaku diri berjuang dihormati bangsa lain. Mengklaim diri memerlukan kebanggaan diri sebagai orang Sasak. Giliran diberikan kehormatan dan kebanggaan, eh malah membuat tanda tangan darah penolakan.

Lantas yang mana satu yang diperlukan Sasak? Rasa bangga sebagai bangsa Sasak atau rasa benci kepada sesama Sasak?

Untuk itu, coba kita lihat yang satu lagi. Tiba-tiba orang Sasak sangat marah. Merasa tersinggung alang kepalang. Mereka menduga Sekda NTB digoyang demi kepentingan politik. Sepercik desa desus pergantian Sekda NTB yang baru bertugas dua tahun menjadi api besar bagi orang Sasak.

Tentu saja kita tidak perlu heran. Karena Sekda NTB merupakan orang Sasak. Sekda NTB diletakkan sebagai representasi bangsa Sasak yang sangat memerlukan kebanggaan dan kehormatan. Dengan begitu, maka sudah pasti Sekda NTB ialah kebanggaan dan kehormatan orang Sasak. Jadi, dengan menggoyang apa dan siapa yang dibanggakan sama artinya dengan merendahkan kehormatan Sasak.

Untuk perkara tersebut, berlaku hal yang sama. Ekspresi kemarahan. Orang Sasak marah karena Sekda NTB diusik. Bahkan mereka menyusun duga-duga yang macam-macam. Dugaan politik, dugaan pengkerdilan, dugaan penghinaan. Tidak kalah, mereka juga tak segan mengancam.

Menarik bukan? Pahlawan Nasional dan Sekda NTB adalah sama-sama orang Sasak. Namun kenapa reaksi substansi kemarahan itu berlainan. Kemarahan yang satu karena merasa Sekda NTB dipermainkan. Dan kemarahan yang satu lagi malah karena menolak nama Pahlawan Nasional menjadi nama BIL. Pada musim yang sama, orang Sasak memerlukan kebanggaan tapi mereka tidak adil dengan kebanggaan mereka sendiri. Mereka berlaku curang dengan kehormatan yang diimpikan. Terkait Pahlawan Nasional mereka melakukan penolakan habis-habisan hanya karena pergantian nama BIL menjadi nama Pahlawan Nasional. Untuk Sekda NTB mereka melakukan perlawanan terhadap sesiapa yang dipandang mengusik Sekda NTB.

Yang paling lucu, mereka mengatasnamakan perkara yang sama juga, yakni kehormatan dan harga diri. Menolak nama Pahlawan Nasional menjadi nama BIL karena mereka merasa kehormatan dan harga diri sebagai kononnya pemilik BIL tidak diindahkan. Yang satu lagi melakukan perlawanan karena kebanggaan mereka terhadap Sekda NTB diusik yang berakibat mengganggu kehormatan dan harga diri mereka.
Lantas kehormatan yang mana satu yang, diperlukan orang Sasak. Kehormatan yang dari sesama bangsa sendiri atau kehormatan dari bangsa lain. Jika diperlukan keduanya, kenapa yang satu ditolak habis-habisan sedangkan yang satu lagi dibela mati-matian? Apabila kehormatan yang dimaksudkan ialah yang diberikan bangsa lain kepada bangsa Sasak, dong aneh lagi ini. Masak iya, kehormatan dipilah-pilah. Kalau ia datang dari bangsa sendiri ditolak, kalau datang dari bangsa lain dijunjung tinggi.

Karena itulah, jika ada asumsi yang berseliweran dapat dipahami juga, misalnya, penolakan nama Pahlawan Nasional sebagai nama BIL disebabkan oleh asal. Pahlawan Nasional berasal dari Lombok Timur sedangkan BIL berada di Lombok Tengah. Boleh jadi ada asumsi lain karena Pahlawan Nasional tersebut dari kelompok berbeda. Satu sisi, asumsi lain pula, Sekda NTB dibela mati karena berasal dari Lombok Tengah dan mewakili kelompok tertentu.

Apabila asumsi tersebut di atas semakin menemukan titik terang, sesungguhnya semakin mengancam orang Sasak sendiri. Betapa sikap mereka berbeda terhadap sesuatu dan seseorang lebih bersifat primordialistik dan polaritatif. Sungguh, ini ialah cara berbangsa yang amat berbahaya. Meskipun sesuatu atau seseorang itu benar-benar memberikan kebanggaan dan kehormatan, namun karena bukan dari asal yang sama serta tidak termasuk barisan kelompok, kebanggaan dan kehormatan tersebut ditampik dihalau sedaya upaya. Begitu yang berlaku jika sebaliknya.

Sungguh ini ialah mentaliti kompleks. Satu ambivalensi yang runyam dan penuh bahaya. Realitas dan limitasi dikonstruksi secara runyam yang, akhirnya, akan terpulang kepada tesis saya sebelum ini. Bahwa orang Sasak memang sudah sangat lama berada dalam dendam satu sama lain. Kenapa tidak. Hanya mereka yang menyimpan dendamlah yang melihat kepada sesuatu sekaligus buta kepada sesuatu yang sama.

Atas dasar itu, saya kemudian menjadi curiga. Jangan-jangan Sasak sudah benar-benar terserak-serak, terkotak-kotak, terkavling-kavling ke dalam ormas ini ormas itu, LSM ini LSM itu, partai ini partai itu, keluarga ini keluarga itu, kampung ini kampung itu, tokoh ini tokoh itu, Tuan Guru ini Tuan Guru itu.

Jika kecurigaan saya ialah nyata, maka cukup sampai di sinilah saja Sasak itu. Cukup masa lalu dan masa kini sajalah Sasak itu. Masa nanti hanya mimpi.

Sasak hanya serpihan zarrah di tengah bangsa lain yang berpesta pora di era Metaverse.

 

Malaysia, 8 Februari 2022

 

Penulis adalah Akademisi, Pekerja Seni Budaya, Pemerhati Sosial Politik dan Media

Berita Terkait

Leave a Reply