Oknum Pejuang Tanah Adat Diduga Peras Petani Jurang Koak

  • Whatsapp
Keindahan wisata alam Jurang Koak. / Foto : muhammadsawaludin.blogspot.com

LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com – Oknum pejuang tanah adat diuduga telah melakukan pemerasan terhadap para petani yang menggarap lahan di kawasan hutan lindung taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Bukan hanya diperas petani juga sering dintimidasi, untuk mempertahankan lahan hutan lindung tersebut sebagai tanah adat.

Dugaan pemerasan dan intimidasi yang dilakukan oknum pejuang adat tersebut, di ungkapkan salah seorang petani jurang koak Usman Wijaya saat menghadiri acara mediasi di Kantor Bupati Lombok Timur, Senin, 7 Oktober 2019 kemarin.

“Setiap petani yang menggarap lahan diwajibkan menyerahkan upeti berupa uang tunai sejumlah 500 ribu rupiah, serta hasil panen padi sejumlah satu awin atau satu iket setiap kali musim panen” ungkap Usman.
Upeti itu diserahkan ke oknum pejuang tanah adat jurang koak.

“Jika tidak membayar upeti maka petani tersebut akan diekeluarkan dari lahan garapan tersebut” tegas Usman.

Bukan hanya mewajibkan pembayaran upeti, petani juga kerap di intimidasi untuk mempertahankan kawasan lahan sengketa tersebut sebagai tanah adat yang merupakan warisan nenek moyang mereka bukan termasuk kawasan hutan lindung TNGR.

Baca Juga

Hal sendada juga diungkapkan kepala desa jurang koak Harmaen, petani yang menggarap lahan hutan lindung tersebut sering mendapat intimidasi dari para pejuang adat, tujuan tidak lain untuk tetap mengusai lahan tersebut.

“Dugaan saya intimidasi yang dilakukan oleh pejuang tanah adat tersebut, agar mereka tetap mengusai lahan” tegas Harmaen.

Dijelaskan Harmaen dari data yang ada, tercatat jumlah petani yang meggarap lahan tersebut sebanyak 140 orang, dimana semua petani tersebut merupakan warga diluar tanah yang disengketakan tersebut. Sejak dibukanya lahan pertanian tersebut pada tahun 2015 lalu, sangat berdampak buruk terhadap sumber mata air warga.

Sedikitknya tiga sumber matai air dikawasan hutan lindung tersebut telah mengering. Akibatnya warga Jurang koak dan Bebidas mengalami kesulitan air bersih.

“Sejak dibuka tahun 2015 lalu sedikitnya tiga sumber mata air yang telah mengering” tutur Harmaen.

Seperti diketahui sengketa lahan Jurang Koak yang berada dikawasan hutan lindung Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Dusun Jurang Koak Desa Bebidas Kecamatan Suela Lombok Timur berlangsung sejak tahun 2015 lalu. Pejuang tanah adat mengklaim lahan tersebut merupakan tanah adat yang diwariksan nenek moyang mereka secara turun temurun.

Sementara dari petugas Balai Konservasi Taman Nasional Gunung Rinjani mengkalim lahan tersebut merupakan lahan yang masuk dalam kawasan hutan lindung. [] NP-Red

Berita Terkait

Leave a Reply