Mengaku Disiksa Majikan, TKW Asal Jerowaru Pulang Penuh Luka

  • Whatsapp
Jamilah (40), Warga Poton Bako, TKW Yang Disiksa Majikannya Di Abu Dhabi, Timur Tengah. Terbaring di ruang perawatan Puskesmas Jerowaru, [] www.ntbpos.co.id / Suandi Yusuf.

LOMBOK TIMUR – Sungguh malang nasib Jamilah (40), seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Dusun Poton Bako Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, menjadi korban kekerasan majikannya di Abu Dhabi.

Korban berangkat menjadi TKW pada bulan Juni 2019 melalui salah satu tekong inisial Srh, dijanjikan gaji yang besar.

Namun sesampainya di Abu Dhabi, janji manis sang tekong tidak sesuai kenyataan, justru Jamilah mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikannya sejak awal korban bekerja pada bulan Juni 2019.

Pantauan media ini, korban dalam perawatan di Puskesmas Jerowaru karena menderita luka disekujur tubuhnya dan patah tulang dibagian kaki kiri akibat terjatuh dari lantai 1 rumah majikannya saat korban hendak berniat kabur.

Baca Juga

“Saya tidak tahan disiksa, sedikit kesalahan langsung dipukul menggunakan besi panas dan saya disiram dengan air panas. Kaki saya patah saat akan kabur tapi jatuh dari lantai 1 rumah majikan itu,“ tutur Jamilah, Senin 7 September 2020.

Dia mengaku tidak pernah diberikan gaji selama 1 tahun dan hanya digaji selama 3 bulan.

“Saya sudah sering mengadukan kasus penyiksaan ini ke aparat penegak hukum yang ada di sana tapi tidak pernah ditanggapi,“ ujarnya.

Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lombok Timur, Hirsan memastikan tidak ada TKW atas nama Jamilah asal Jerowaru di sistem komputerisasi Disnakertrans.

“Kami pastikan korban berangkat dengan cara tidak resmi, namun demikian kami tetap akan menindaklanjuti kasus ini dengan catatan, ada surat pengaduan resmi dari pihak keluarga korban sehingga kami bisa tahu apa yang menjadi keinginannya,“ jelas Hirsan.

Kata Hirsan, pemberitaan media yang mengangkat kasus penganiayaan terhadap TKW asal Jerowaru tersebut merupakan informasi awal bagi Disnakertrans.

“Sesuai Standar Oprasional Prosedur (SOP) yang sudah kita tetapkan, apabila tidak ada surat aduan secara resmi dari keluarga korban, kami tidak ada dasar untuk memberikan tindaklanjut, seperti misalnya untuk mencari sponsor yang memberangkatkan korban,“ katanya. np

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *