Maha Desa, Geliat Ekonomi Dari Desa

  • Whatsapp

NTBPOS.CO.ID, MATARAM – Harapan untuk tumbuh dan bangkitnya perekonomian dari desa di seluruh Nusa Tenggara Barat (NTB), salah satunya bisa dilihat dari keberadaan Maha Desa.

Menurut keterangan Direktur Utama PT Gerbang NTB Emas (GNE), Samsul Hadi, untuk sementara Maha Desa masih menjadi unit usaha PT GNE.

“Saat ini sedang dipersiapkan menjadi anak perusahaan GNE,” katanya.

Baca Juga

Sejak pertama kali di lounching, Maha Desa telah melakukan uji coba di 20 desa di Kabupaten Lombok Barat.

“Alhamdulillah, meski baru sekitar sebulan yang lalu, respon dan manfaatnya untuk masyarakat di desa-desa itu mulai terasa. Semoga ini menjadi titik terang untuk pengembangan di desa-desa berikutnya,” kata Samsul Hadi.

Dijelaskan lebih jauh, dengan kehadiran Maha Desa, masyarakat di desa bisa membeli kebutuhan pokoknya sehari-hari dengan cara berhutang yang diberi jangka waktu selama seminggu. Dana untuk menutup kebutuhan tersebut, disiapkan oleh PT GNE. “GNE yang membayarkan terlebih dahulu ke pihak vendor,” terang Samsul Hadi.

Dirinya mengaku tak khawatir dengan kemungkinan telat bayar apalagi hutang tak terbayarkan oleh masyarakat. Selain pihaknya mengaku Maha Desa dibangun atas dasar kepercayaan, kekhawatiran itu tidak akan terjadi dengan sistem yang dibangun.

“Dengan sistem kelompok untuk bisa menggunakan fasilitas ekonomi yang disediakan maha desa maka, mereka tanggung renteng jika ada kepala keluarga yang tidak membayar hutangnya,” tutur Hadi.

Diuraikannya, satu kelompok terdiri dari 10 KK. Jika ada satu KK yang tidak membayar maka seluruh anggota kelompok bertanggungjawab, sebab jika tidak terbayarkan, maka seluruh anggota kelompok tidak boleh lagi memanfaatkan fasilitas ekonomi Maha Desa.

“Dengan kemudahan fasiltas yang ada, berupa pesan antar, membeli kebutuhan pokok melalui Maha Desa, harganya lebih murah dibandingkan pasar tradisional atau modern yang ada,” katanya.

Semua vendor yang ada di Pulau Lombok sudah melakukan kerjasama dengan Maha Desa melalui PT GNE. Diakuinya, belum sepenuhnya memanfaatkan produk yang dihasilkan oleh IKM/UKM di daerah ini.

“Kita lakukan itu secara perlahan, saat ini kita sedang melakukan strategi substitusi. Hingga nanti pada akhirnya bisa lebih mengakomodir produk IKM/UKM kita,” kata Hadi.

Seperti diketahui, melalui unit usaha Maha Desa, PT GNE membangun Trade and Distribution Center (TDC) di setiap desa (sementara ini baru 20 desa di Lombok Barat). TDC kemudian berkerjasama dengan BUMDes untuk memfasilitasi kebutuhan pokok masyarakat. Masyarakat, dalam hal ini kepala keluarga (KK) membentuk kelompok minimal 10 KK untuk dapat memesan kebutuhan pokoknya melalui BUMDes. Selanjutnya, pihak BUMDes berhubungan dengan vendor sesuai yang dibutuhkan oleh masyarakat saat itu.

“Bisa dibayangkan, jika setiap KK dalam sebulan minimal Rp500 ribu, dikali dengan 2500 KK, maka ini adalah sebuah potensi ekonomi yang sangat besar. Terlebih faktanya, saat ini ada KK yang dalam seminggu mengeluarkan sebesar Rp300 ribu,” kata Hadi penuh optimis.[] *

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *