Lebaran di Era Digital

  • Whatsapp
Foto : Dok/www.ntbpos.com

Oleh : Sarjan Andesbaya

Menyampaikan ucapan selamat hari raya idul fitri dan permohonan maaf, bagi bangsa Indonesia tidak hanya sebagai sesuatu yang lumrah, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya. Ucapan itu secara umum dikonstruksi dengan kata-kata, “Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin”.

Ucapan itu selain dikonstruksi dengan bahasa nasional, juga lazim diucapkan dengan ucapan yang disesuaikan dengan bahasa masing-masing daerah. Dan kalau dikutip dari beberapa artikel kompas.com, Kalau orang jawa dengan mengucap, “Sugeng riyadin, ngaturaken sedoyo lepat”. Kalau orang sunda dengan berucap, “ wilujeng boboran siam sim abdi nyuhunkeun dihapunten lahir seinareng bhatin”. Demikian juga dengan daerah-daerah yang lain sering kali ucapannya disesuaikan dengan bahasa daerahnya, yang substansinya sama, ucapan selamat dan permohonan maaf.

Dikatakan sebagai budaya karena memang telah diajarkan sejak dahulu dan berlangsung secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Entah kapan dimulainya, yang jelas ucapan itu diucapkan secara berkelanjutan pada moment idul fitri, yang dianggap sebagai hari kegembiraan atas kemenangan setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadlan. Hanya perkembangan dan situasi yang membedakan cara penyampaian ucapan tersebut. Memang menjalin silaturrahmi dan memohon maaf adalah ajaran Islam, tetapi melekatkannya kepada moment Idul Fitri adalah budaya. Makanya kalau pembaca mengucap permohonan maaf di moment Idul Fitri kadang ada juga teman yang bertanya, maka mereka akan terheran-heran, dan akan menanyakan memangnya anda telah berbuat apa kepada saya, kok minta maaf.

Di tahun 90an, saat saya masih usia anak-anak, di kampung saya, ucapan selamat dan permohonan maaf itu disampaikan secara langsung dengan mengunjungi saudara, kerabat sanak famili, para guru, kawan dan para sesepuh. Kerabat yang beradius jauh pun tak segan mendatanginya, meski harus berjalan kaki berkilo-kilo meter. Ada rasa di hati yang kurang pas bila “ritual” lebaran itu tidak dilaksanakan. Waktupun seolah terbatasi sampai seminggu setelah lebaran, bila telah lewat seminggu baru memberi ucapan selamat dan permohonan maaf, akan terasa ganjil dan tak wajar.

Baca Juga

Adapun lebaran di pertengahan tahun 2000an, ucapan lebaran tidak hanya dengan mengunjungi langsung. Tetapi ucapan lebaran dapat dilakukan dengan mengirimkan kartu, waktu itu disebut dengan kartu lebaran. Di dalam kartu tersebut telah tercetak ucapan selamat dan permohonan maaf. Tentu saja oleh pengirim kartu, dapat ditambahi kata-kata atau gambar sesuai selera. Media kartu lebaran ini dapat dipesan di percetakan atau dibeli di toko dan pengirimannya melalui Kantor Pos. Karena melalui pemesanan di percetakan atau membeli di toko, ucapan menggunakan media ini berbiaya cukup lumayan, seberapa biayanya, ya tergantung kualitas kartunya, selain harus membeli prangko. Kapan sampainya kartu lebaran di tempat yang dituju, tergantung nilai prangkonya, semakain tinggi nilai prangko, akan semakin cepat sampai.

Berbeda lagi dengan hari raya idul fitri akhir-akhir ini. Di hari raya 1443 H ini, tentu kita mengalami berapa sehari jelang idul fitri, kita sudah kebanjiran ucapan lebaran yang masuk ke ponsel smartphone yang kita miliki. Lantas pas di hari H Idul Fitri intensitasnya semakin meninggi, datang secara maraton dan bertubi-tubi. Tentu dapat dirasakan betapa efektifnya penyampaian ucapan melalui media ini. Sesuai karakter era digital, era dengan menggunakan jaringan internet, tentu penyampaian ucapan ini datang begitu super cepat, akan sampai sesaat setelah dikirim. Cukup dengan copy paste atau forward ucapan, kirim ke kontak yang dituju. Penyampaian ucapan ini dapat juga dikirm via group, sekali kirim ke group dapat terbaca oleh semua anggota.

Teks ucapan selamat dan permohonan maafpun dapat dipercantik dengan konten-konten Tulisan pun cukup bervariasi model dan bentuknya, tergantung selera. Sejumlah aplikasi telah memanjakan pengguna. Seringkali konten itu berupa foto si pengirim beserta keluarga dan dekorasi ketupat yang berfilosofi mengaku lepat (mengaku bersalah).

Pesan yang datang secara digital tersebut tak lepas dari perkembangan teknologi komunikasi berupa smartphone yang menyebar secara merata di tengah-tengah masyarakat. Perkembangan ini secara nyata telah berpengaruh dan mengubah pola berkomunikasi, termasuk dalam penyampaian ucapan selamat dan permohonan maaf di Idul Fitri.

Tak hanya itu, berlebaran dengan berkunjung secara langsung, dapat tergantikan dengan berlebaran secara virtual. Dengan aplikasi WhatsApp saja, seseorag dapat bertatap muka secara maya dengan jumlah sampai empat orang. Di hari ini saya yang tiba-tiba dapat panggilan video call, di layar smartphone saya sudah terpampang gambar adik saya yang tugas di polres sumbawa dan ibu saya yang sedang jadi TKW di Saudi Arabia, Belum lagi kalau menggunakan aplikasi lebih canggih, kita dapat berlebaran secara virtual dengan berbagai kalangan dalam jumlah lebih banyak. Terlepas dari soal hambar atau tidak.

Meski silaturrahmi, ucapan selamat dan permohonan maaf di moment idul fitri yang merupakan bagian dari lebaran adalah budaya, saya kira semua itu tidaklah berdiri sendiri. Budaya itu berkelit kelindan sehubungan dengan usainya umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadlan. Dengan puasa ramadlan, dimana umat Islam menahan makan dan minum sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari, di saat idul fitri diharapkan dapat membentuk manusia yang meningkat ketaqwaannya. Makanya idul fitri ada di bulan syawal (bulan peningkatan).

Media apapun yang digunakan, termasuk media yang berbasis digital, dalam pemberian ucapan selamat dan permohonan maaf di saat lebaran posisinya adalah hanya aksesoris, hiasan tambahan yang penuh kebaikan. Substansi beridul fitri yang sesungguhnya adalah bagaimana tujuan puasa Ramadhan dapat terwujud, yaitu menjadi manusia yang berderajat muttaqin. Wallahu a’lam.

 

Penulis adalah Ketua D’movement Youth

Berita Terkait

Leave a Reply