Kisah Inspiratif Pemuda Sukses, Putus Sekolah Tidak Membuatnya Putus Asa

  • Whatsapp
Harlin, Pengusaha Konveksi Asal Lendang Beduri, Lombok Timur Bersama Novia Lestari, Mahasiswi Semester V, Universitas Nahdlatul Ulama Mataram, Jurusan Ekonomi Islam./ Foto : Istimewa/www.ntbpos.com

Oleh : Novia Lestari

NTBPOS.COM – “Ketika beras gagal menjadi nasi, maka buatlah ia menjadi bubur enak” ungkapan tersebut adalah bentuk semangat yang menggambarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Hal itu patut disematkan pada perjuangan hidup seorang Bapak Harlin yang hari ini mencapai kesuksesannya meskipun pernah merasakan kegagalan yang membuatnya hampir putus asa.

Harlin adalah salah satu sosok pemuda inspiratif yang lahir di Selagek, Lombok Timur 36 tahun lalu. Ia adalah salah seorang yang tergolong sukses di usia mudanya, meskipun terlahir dari keluarga yang kurang mampu, bahkan di usianya yang masih belia sudah merasakan kerasnya kehidupan dunia tanpa kasih sayang, akibat keegoisan orang tua yang saat itu memilih berpisah. Ketika anak seusianya sedang asyik bermain menikmati masa kanak-kanaknya, Harlin justru dipaksa oleh keadaan untuk berjuang dengan tangan mungilnya, mencari kerja serabutan demi mendapatkan upah untuk membiayai sekolahnya. Karena impian dan cita-citanya untuk menjadi orang sukses, Harlin harus rela menyisihkan uang jajannya untuk menabung.

Saat itu usianya baru 10 tahun, Harlin harus rela tidak istirahat siang untuk bekerja di sebuah bengkel dekat rumahnya, mulai dari pulang sekolah sampai menjelang terbenam matahari. Dari hasil keringatnya itulah dia bisa membeli keperluan sekolah sampai akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Setelah sekian lama bekerja di bengkel, membuatnya tertarik untuk mengambil jurusan otomotif, ditambah dengan impian dan cita-citanya menjadikan semangat belajarnya terus membara, namun saat itu takdir berkata lain sehingga harapan untuk bisa melanjutkan pendidikannya di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Selong harus ia kubur dalam karena uang hasilnya bekerja di bengkel, jauh dari kata cukup untuk biaya pendidikan di Sekolah Negeri waktu itu.

Keadaan saat itu tidak lantas membuatnya menyerah, namun harus memilih untuk mencari pekerjaan lain dan meninggalkan dunia otomotif. Karena lingkungan tempatnya tinggal, mayoritas bekerja sebagai tukang jahit, akhirnya dia mulai belajar menjahit dan menjadi pekerja sejak tahun 2003 sampai 2011. Merasa cukup terampil untuk menjahit di usianya yang sudah beranjak dewasa, pada pertengahan tahun 2011 dirinya memberanikan diri membuka usaha di Lendang Bedurik, tepatnya di RT 17 Gang Berkah, yang sekarang menjadi kantor pusat LKP 2 Berkah.

Hanya dengan modal nekat, Harlin memulai usaha mandirinya dengan 1 buah mesin jahit dan 1 buah mesin obras, pada saat itu usaha yang ia kelola tidak berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan karena belum mempunyai pelanggan dan hanya memulai dengan membuat pakaian-pakaian dari keluarga terdekat saja.

Tekad yang kuat membuatnya istikomah dalam menjalankan bisnisnya. Seiring berjalannya waktu, ia semakin dikenal dan banyak yang menggunakan jasanya dalam menjahit hingga akhirnya di tahun ke-2, Harlin mampu membeli sebidang tanah seluas 2 are di wilayah Pancor Sanggeng RT 12, Kelurahan Sekarteje dan saat ini dijadikan sebagai kantor perusahaan konveksinya. Prinsip hidup yang kuat, bertanggungjawab serta amanah, membuat usahanya menjadi berkah dan sampai hari ini dirinya sudah mampu menciptakan peluang usaha bagi orang lain dengan membuka cabang pelatihan di Lenek, Sukareme dan Mantang Lombok Tengah.

Bahkan rencana selanjutnya, Harlin akan membuka 1 cabang lagi di Jenggik. Dari hasil kerja kerasnya selama ini, ia sudah mampu membeli 2 unit sepeda motor dan 1 unit mobil untuk membantu memudahkan langkahnya dalam mengembangkan usaha. Tidak hanya itu, dirinya juga mendirikan kos-kosan 6 kamar.

Dari kisah hidup pak Harlin ini kita bisa mengambil hikmah dan menjadikan sebuah motivasi hidup bahwa Broken Home bukan menjadi alasan untuk putus asa, justru dari situasi yang sangat sulit itu kita harus bisa membuktikan kepada semua orang bahwa kita bisa bangkit dari keterpurukan itu. Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. (red)

Berita Terkait

Leave a Reply