Janji Pemerintah Belum Terbayar, Siswa SDN 6 Pohgading Belajar di Teras Sekolah

  • Whatsapp

Kondisi Siswa SDN 6 Pohgading Saat Belajar di Teras Sekolah Ketika Hujan./ Foto : Unra/www.ntbpos.com

LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com – Gempa Bumi yang menggoncang Lombok pada tahun 2018 lalu menyebabkan dampak kerusakan diberbagai sektor, salah satunya sektor Pendidikan. Tercatat sebanyak 539 Sekolah rusak berat dan yang paling banyak terdampak yakni di Lombok Timur dan Lombok Utara.

Pasca Gempa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada saat itu, Muhadjir Effendy mengunjungi beberapa sekolah terdampak gempa di Kabupaten Lombok Timur, pada Senin, 13 Agustus 2018.

Dalam memulihkan kegiatan belajar mengajar pascagempa, Mendikbud saat itu menyatakan, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah bergotong royong memperbaiki kondisi ruang kelas dan bangunan sekolah yang rusak.

“Fokusnya di sekolah. Kita prioritaskan bagaimana supaya proses kegiatan belajar mengajar kembali lancar,“ tegas Mendikbud Muhadjir Effendy usai memotivasi siswa di lapangan Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Obel-obel, Sambelia, empat tahun silam.

Namun kenyataannya, hingga kini para siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 6 Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, masih dibiarkan dan dipaksa belajar di teras ruang kelas yang tersisa, karena sejumlah ruang kelas rata dengan tanah.

Melalui media ini, pihak sekolah menyampaikan kondisi bangunan tempat siswa belajar agar pemerintah bisa melihat dan mengingat janjinya beberapa tahun lalu untuk memprioritaskan pembangunan sekolah rusak berat.

Kepala SDN 6 Pohgading, L. Sudi, saat ditemui media ini mengatakan, semula sekolahnya memiliki enam ruang kelas dan satu ruang guru, namun kibat gempa pada tahun 2018, hanya tiga ruang kelas yang tersisa.

“Dari tiga ruang tersisa, kita memanfaatkan satu ruang untuk guru dan dua ruang lainnya digunakan belajar siswa kelas lima dan enam,“ tutur L Sudi, Rabu, 20 April 2022.

Sementara siswa kelas dua, tiga dan empat, terpaksa harus belajar di teras sekolah secara berdampingan. Dengan cara seperti itu, menurutnya, siswa sangat terganggu dan tidak bisa fokus menerima materi pelajaran, terlebih ada kelas lain yang sedang berolahraga.

Lebih lanjut, Sudi menuturkan, dengan kondisi sekolah yang hanya memiliki tiga ruang belajar, masyarakat beranggapan sekolah itu tidak memiliki guru. Wajar saja masyarakat ragu menyekolahkan anaknya.

“Terbukti pada tahun ajaran 2021/2022 saja, kami tidak memiliki siswa. Wali murid memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah lain,“ tuturnya.

Belum genap dua bulan ia menjadi kepala sekolah, L Sudi sangat prihatin melihat kondisi sekolah itu. Sehingga ia berharap dengan terbentuknya Komite sekolah saat ini, dapat memecahkan beberapa permasalahan sekolah.

“Kami berharap Pemerintah Daerah juga memperhatikan dan membatu mencari solusi. Agar anak didik kita dapat belajar dengan baik,“ imbuhnya.

Sementara Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kecamatan Pringgabaya, Mahrus menyatakan, sudah menyampaikan kondisi sekolah tersebut kepada Pemerintah Daerah.

Bahkan, ia mengungkap, sebanyak tujuh sekolah rusak parah di Kecamatan Pringgabaya belum kunjung diperbaiki.

“Khususnya SDN 6, saya sudah berbicara dengan kepala sekolah serta komite untuk mengundang wali murid guna merembukkan solusi membuat ruang belajar sementara,“ katanya.

Kemudian setelah adanya ruang belajar sementara nantinya, ia berinisiatif menarik siswa kelas dua yang tidak sesuai zonasinya. “Siswa zona SDN 6 Pohgading kan sekolah di tempat lain, itu kita tarik untuk dijadikan murid kelas dua nanti setelah kenaikan kelas,“ imbuhnya. np

Berita Terkait

Leave a Reply