Galian C Milik Seorang Warga Kotaraja di Dusun Odang Diduga Cemari Sungai

  • Whatsapp
Aktivitas Tambang di Dusun Odang./Foto : Unrara Angan/www.ntbpos.com

LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com – Galian C yang diduga ilegal, beroperasi di Dusun Odang, Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Diduga akibat aktivitas tambang tersebut, air sungai Dam Bangka tercemar.

Kepala Dusun Marang Selatan, Haerul Paridi, mengatakan, sejak keberadaan tambang pasir di Dusun Odang, air sungai Dam Bangka menjadi keruh.

Padahal air sungai itu tidak hanya digunakan untuk mengairi sawah dan kolam ikan milik warga, melainkan untuk mandi, mencuci bahkan minum.

“Sebelumnya warga setempat pernah melakukan protes karena air sungai tempat warga sedang mengadakan lomba mancing tiba-tiba keruh dan pihak perusahaan Galian C meminta maaf, mengaku salah karena tanggulnya jebol,“ tuturnya.

Terlepas dari kejadian itu, Haerul mengaku sudah menerima keluhan masyarakat serta Kawil Dusun tetangga dan rencana akan melakukan penutupan secara paksa. Namun dirinya menyarankan agar sebisa mungkin diselesaikan secara kekeluargaan.

Baca Juga

“Tetapi kalau saja masih keruh dan tidak ada tindakan dari Aparat, saya tidak bisa bendung amarah warga yang merasa sudah sangat dirugikan, terlebih masyarakat sudah mulai berhenti membuang sampah di sungai karena memahami pentingnya kebersihan,“ ujarnya.

Sementara itu, Pengelola Galian C, Harimudin, yang dipercaya pemilik lahan untuk mengurus proyek tersebut mengakui bahwa pemilik lahan tidak memiliki izin tambang, melainkan izin pembuatan waterpark.

“Untuk membuat waterpark, tentu tidak bisa dengan kondisi lahan seperti ini, sehingga kita turunkan dulu tanahnya, ternyata di bawah ada pasir. Dari pada sia sia, limbahnya ya kita jual,“ ungkapnya.

Ia mengakui bahwa dulu masyarakat komplain karena air sungai Dam Bangka keruh disebabkan tanggul penampungan pasir jebol pada waktu itu, namun sudah di perbaiki.

Dari kejadian itu sampai saat ini, kata dia, tidak ada masyarakat komplain karena menurutnya limbah air dari galian terlihat jernih saat jatuh ke sungai.

Dirinya justru mempertanyakan, masyarakat mana yang terganggu dengan limbah, sementara menurutnya limbah air yang di buang ke sungai sudah jernih.

“Pasir ini tidak perlu dicuci, langsung dinaikkan ke Dum Truck. Lihat limbah air yang jatuh ke sungai, jernih kan,“ ucapnya sambil menunjukkan warna air di area galian C.

Selama penggalian pasir ini, terang Harimudin, semakin dalam galiannya, semakin besar air yang keluar dan Hal itu sudah ia sampaikan kepada pemerintah daerah dan ditanggapi baik.

“Kepala Dinas PUPR, PDAM dan dari Pemerintah Provinsi turun melihat lokasi ini pada saat itu. Menurut mereka, jumlah air yang dikeluarkan 40 liter/detik, sehingga direncanakanlah pembuatan tempat penampungan air PDAM di tahun akan datang,“ pungkasnya. np

Berita Terkait

Leave a Reply