Dua Orang Ditetapkan Jadi Tersangka Pemagaran Lahan Sirkuit MotoGP

  • Whatsapp
Puluhan warga saat memagari lahan pembangunan sirkuit MotoGP di kawasan KEK Mandalika, Lombok Tengah. / Foto : Doc. NTBPOS.com

LOMBOK TENGAH, NTBPOS.com – Dua orang warga Dusun Ujung Lauk, Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ditetapkan jadi tersangka Polres Lombok Tengah karena memagari kawasan pembangunan sirkuit MotoGP di Kuta, Mandalika Lombok Tengah. Kedua warga tersebut adalah Kepala Dusun Ujung Lauk, Abdul Mutalib dan satu warga bernama Usman. Mereka ditetap tersangka, Sabtu, 5 Oktober 2019 ( hari ini ).

Keduanya tersangka atas tuduhan melakukan penggeregahan atau menguasai lahan tanpa izin dari pemilik yang sah sesuai pasal 6 ayat (1) undang-undang nomor 51 prp tahun 1960 jonto undang-undang nomor 1 tahun 1961 tentang penetapan semua undang-undang darurat.

“Dua orang sudah ditetapkan tersangka hari ini,” kata Kuasa hukum warga Ujung Lauk, Apriadi Abdi Negara, seperti diberitakan KoranNTB, Sabtu, 5 Oktober 2019.

Abdi Negara menyayangkan sikap aparat yang terlalu cepat menetapkan mereka tersangka. Padahal, pemeriksaan baru dilakukan Kamis kemarin.

“Pemeriksaan baru Kamis kemarin, tapi hari Sabtu ini ditetapkan tersangka,” ujarnya.

Baca Juga
Pemagaran lahan pembangunan Sirkuit MotoGP di Kawasan KEK Mandalika yang diklaim warga belum dibayar Pihak ITDC. / Foto : Doc. NTBPOS.com

Sebelumnya, pada hari Ahad, 29 September 2019 lalu, warga beramai-ramai memagari tanah yang dulunya merupakan jalan desa karena pihak pengelola Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) diduga belum membayar tanah yang masuk kawasan pembangunan sirkuit MotoGP itu.

Namun pihak ITDC mengklaim telah memiliki hak pengelolaan atau HPL, sehingga melaporkan warga atas tuduhan penggeregahan atau penyerobotan tanah secara tidak sah.

Abdi juga menyayangkan status tersangka kepada Kepala Dusun Ujung Lauk Abdul Mutalib, karena saat kejadian pemagaran, Abdul Mutalib dalam posisi mengawal warga agar tidak terjadi keributan dalam aksi mereka.

“Abdul Mutalib hadir saat itu agar masyarakat tidak berbuat anarkis dalam aksinya. Itu agar tercipta situasi Kamtibmas yang damai, kok malah jadi tersangka,” sesalnya.

Sementara, satu warga lainya yang juga anggota BPD Alus Darmiah juga saat ini diperiksa polisi atas tuduhan kasus minyak dan gas yang terjadi pada 2017 silam.

“Kok sekarang kasus itu dinaikkan lagi. Ada apa ini,” katanya.

Sebelumnya, Alus Darmiah yang diwawancarai mengatakan masyarakat setempat mendukung sepenuhnya mega proyek sirkuit MotoGP, namun masyarakat hanya ingin haknya dipenuhi.

“Masyarakat mendukung 100 persen hajat pemerintah pembanngunan mega proyek nasional sirkuit MotoGP, tapi penuhi dulu hak masyarakat,” imbuhnya.

Dia menyebutkan, soal tanah eks jalan desa merupakan satu permasalahan dari banyak permasalahan lainnya, seperti tanah warga yang belum dibayarkan. Bahkan, warga mengancam akan menghadang acara peletakan batu pertama yang dihadiri presiden jika permasalahan tersebut belum diselesaikan. [] NP-KoranNTB

Berita Terkait

Leave a Reply