Apa itu Inner Child : Cara Mengenali dan Memahami Bagian Diri Lebih Dalam dengan Melihat Masa Lalu

  • Whatsapp
Aulia Untari Intan Wulandari. S. Psi., M. Psi . / Foto: Istimewa/www.ntbpos.com

Oleh : Aulia Untari Intan Wulandari

Semua orang memandangku sebagai sosok yang pemalu, polos, sesekali juga penakut. Kuingin memiliki pasangan tetapi untuk berhadapan dengan laki-laki saja rasanya ku tak mampu.

Aku selalu berpikir bahwa laki-laki itu jahat, dan ku harus waspada. Setiap kali berpapasan dengan laki-laki atau berkenalan dengan laki-laki yang masih single (harus belum punya pasangan intinya) jantungku terasa berdetak kencang, keringat membasahi tubuhku, tak jarang nafasku memburu, badanku terasa lemas dan pikiranku menjadi kacau.

Saat itu, aku memutuskan untuk bertemu dengan psikolog untuk menceritakan persoalanku ini. Ia bertanya, “sejak kapan kamu merasa demikian”. ku terdiam cukup lama, sambil berpikir dan bertanya dalam hati “sejak kapan ya?”.

Aku lupa awalnya ku jawab, tetapi psikolog hanya tersenyum dan Kembali bertanya hal yang sama. Lalu ku kembali terdiam, sepertinya sudah terlalu lama sampai aku lupa bertanya kepada diriku sendiri kapan awal mula situasi ini terjadi.

Akhirnya ku sadar, perasaan ini telah kurasakan sejak masa kecilku Ketika salah seorang guruku menyentuh payudaraku dan ia hanya melotot kepadaku, ku ingat saat itu ku merasa sangat takut, badanku terdiam membeku, tak ada yang menegur perilaku guruku itu karena saat itu adalah jam istirahat dan aku pergi ke kantin sendirian.

Semuanya terjadi begitu cepat. Untuk beberapa hari ku tak berani menceritakan kepada orang tuaku karena orang tua ku bekerja, dan sering mengabaikanku saat ku bercerita.

Ternyata, memori puluhan tahun lalu itu sangat kuat sehingga berbekas bertahun-tahun lamanya. Ya, ku ingat salah satu saran yang diberikan “berdamailah dengan inner child-mu” (AS-(25)P)

Banyak orang tidak menyadari dan terus bertumbuh mendewasa tanpa tahu dan kenal lebih dalam tentang dirinya sendiri. Banyak orang kemudian mudah sekali merasa tidak berdaya, mudah merasa tersinggung, marah, berteriak, menyakiti bahkan dengan mudah memutus interaksi sosial. Mengapa?
Orang-orang terus bertumbuh tanpa menyadari ada luka batin yang dirasakan oleh “anak kecil” (inner child) dalam diri mereka semasa dalam fase kehidupannya.

Stephen A. Diamond Ph.D dalam
tulisannya yang berjudul Essential Secrets of Psychotherapy: The Inner Child di Psychology Today mengatakan bahwa inner child adalah himpunan peristiwa baik maupun buruk yang dialami anak dan membentuk kepribadian mereka hingga dewasa.

Peristiwa yang terjadi saat masa kanak-kanan akan tertanam di alam bawah sadar hingga dewasa, menjadi long term memory, sehingga inner child akan berpengaruh terhadap kepribadian serta cara seseorang bersikap dalam hidupnya.

Ikhsan Bella Persada.M.Psi seorang Psikolog menjelaskan bahwa inner child dapat terluka, apabila tidak diatasi dapat menimbulkan masalah dikemudian hari. Pengalaman yang menyakitkan seperti halnya kekerasan yang diperoleh selama masa kecil, diabaikan oleh orang tua atau orang-orang di sekitarnya, kurangnya kasih sayang yang didapatkan, atau bahkan terlalu dikontrol oleh orang tuanya dapat memberi luka pada inner child.

Maxine Harley seorang psikoterapis mengemukakan beberapa tanda inner child terluka, diantaranya
yakni :
o rendahnya harga diri seseorang,
o suasana hati yang tidak stabil,
o cenderung emosional,
o memiliki masalah identitas,
o menjadi seorang pemberontak,
o memiliki masalah komitmen,
o kurang percaya diri,
o menjadi sosok yang kompetitif,
o ketergantungan pada berbagai hal buruk,
o berperilaku obsesif, pasif atau agresif.

Hasil pengalaman masa lalu yang membentuk inner child dapat terlihat dalam beragam sifat, inner child dapat bersifat baik dan buruk apabila buruk seperti pemarah, penindas sedangkan inner child yang berasal dari pengalaman baik bisa jadi sifat yang semangat, enerjik, dan lain-lain. Inner child
dapat membawa masalah pada kestabilan emosional, tingkah laku dan hubungan sosial seseorang dengan lingkungannya apabila tidak memahaminya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk merangkul inner child, diantaranya : pertama, menyadari keberadaan, lalu dengarkan dan berkomunikasi dengannya, tenangkan diri. Kedua, mencari bantuan para ahli di bidangnya.

 

Penulis adalah Psikolog di UPT Puskesmas Pakem, Kab. Sleman. DI.Yogyakarta

Berita Terkait

Leave a Reply